Ada dua aspek yang perlu
dipertimbangkan oleh manajemen perusahaan dalam pengambilan keputusan keuangan,
yaitu tingkat pengembalian (return) dan risiko (risk) keputusan keuangan
tersebut. Tingkat pengembalian adalah imbalan yang diharapkan diperoleh di masa
mendatang, sedangkan risiko diartikan sebagai ketidakpastian dari imbalan yang
diharapkan. Risiko adalah kemungkinan terjadinya penyimpangan dari rata-rata
dari tingkat pengembalian yang diharapkan yang dapat diukur dari standar
deviasi dengan menggunakan statistika.
Suatu keputusan keuangan yang lebih
berisiko tentu diharapkan memberikan imbalan yang lebih besar, yang dalam
keuangan dikenal dengan istilah “High Risk High Return”. Ada trade off antara
risk dan return, sehingga dalam pemilihan berbagai alternatif keputusan
keuangan yang mempunyai risiko dan tingkat pengembalian yang berbeda-beda,
pengambilan keputusan keuangan perlu memperhtungkan risiko relatif
keputusannya. Untuk mengukur risiko relatif digunakan koefisien variasi, yang
menggambarkan risiko per unit imbalan yang diharapkan yang ditunjukkan oleh
besarnya standar deviasi dibagi tingkat pengenbalian yang diharapkan.
Risiko keuangan terjadi karena
adanya penggunaan hutang dalam struktur keuangan perusahaan, yang mengakibatkan
perusahaan harus menanggung beban tetap secara periodik berupa beban bunga. Hal
ini akan mengurangi kepastian besarnya imbalan bagi pemegang saham, karena
perusahaan harus membayar bunga sebelum memutuskan pembagian laba bagi pemegang
saham. Dengan demikian, risiko keuangan menyebabkan variabilitas laba bersih
(net income) lebih besar.
Jika manajemen perusahaan dapat
memanfaatkan dana yang berasal dari hutang untuk memperoleh laba operasi yang
lebih besar dari beban bunga, maka penggunaan hutang dapat memberikan
keuntungan bagi perusahaan dan akan meningkatkan return bagi pemegang saham.
Sebaliknya, jika manajemen tidak dapat memanfaatkan dana secara baik,
perusahaan mengalami kerugian.
2.1RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang yang telah
di paparkan di atas,maka masalah yang di hadapi adalah :
I.Perbedaan
antara risiko dan tingkat pengembalian
II.Hubungan
antara risiko dan tingkat pengembalian
III.Tipe
risiko dan sumbernya
IV.Bagaimana
cara menghitung risiko dan tingkat pengembalian
V.Model
yang di gunakan pada risiko dan tingkat pengembalian
BAB II
PEMBAHASAN
2.1PENGERTIAN RISIKO DAN TINGKAT
PENGEMBALIAN
Risiko dapat dikatakan sebagai suatu peluang terjadinya
kerugian atau kehancuran. Lebih luas, risiko dapat diartikan sebagai
kemungkinan terjadinya hasil yang tidak diinginkan atau berlawanan dari yang
diinginkan. Dalam industri keuangan pada umumnya, terdapat suatu jargon “high risk bring about high return”,
artinya jika ingin memperoleh hasil yang lebih besar, akan dihadapkan pada
risiko yang lebih besar pula. Contohnya dalam investasi saham. Volatilitas atau
pergerakan naik-turun harga saham secara tajam akan membuka peluang untuk
memperoleh hasil yang lebih besar, namun sebaliknya, jika harga bergerak ke
arah yang berlawanan, maka kerugian yang akan ditanggung sangat besar.
Sedangkan pengembalian adalah keuntungan
yang diperoleh perusahaan, individu
dan institusi dari hasil kebijakan investasi yang dilakukan.
Jadi, risiko dan tingkat pengembalian adalah kondisi yang
dialami oleh perusahaan, institusi, dan individu dalam keputusan investasi
yaitu, baik kerugian maupun keuntungan dalam suatu periode akuntansi.
Adapun
hubungan antara risiko dengan tingkat pengembalian
adalah:
1.bersifat linear atau searah
2.Semakin tinggi tingkat pengembalian maka semakin tinggi
pula risiko
3.Semakin besar asset yang kita tempatkan dalam keputusan
investasi maka semakin besar pula risiko yang timbul dari investasi tersebut.
4.Kondisi linear hanya mungkin terjadi pada pasar yang
bersifat normal.
2.2 HUBUNGAN KARAKTERISTIK DENGAN RISIKO DAN
TINGKAT PENGEMBALIAN
Menurut Paul L. Krugman dan Maurice Obstfeld, bahwa pada
kenyataanya, seorang investor yang netral terhadap risiko cenderung mengambil
posisi agresif maksimum. Ia akan membeli sebanyak mungkin aset yang menjanjikan
hasil tinggi dan menjual sebanyak mungkin aset yang hasilnya lebih rendah.
Perilaku inilah yang menciptakan kondisi paritas suku bunga. Adapun
karakteristik tersebut secara umum dapat dibagi menjadi tiga, yaitu :
1.Takut
pada risiko (RISK AVOIDER)
Karakteristik ini di mana sang decision maker
sangat hati-hati terhadap keputusan yang diambilnya bahkan ia cenderung begitu
tinggi melakukan tindakan yang sifatnya mengindari risiko yang akan timbul jika
keputusan diaplikasikan. Karakter pebisnis yang melakukan tindakan seperti ini
disebut dengan safety player.
2.Hati-hati
pada risiko (RISK INDIFFERENCE)
Karakteristik ini di mana sang decision maker
sangat hati-hati atau begitu menghitung terhadap segala dampak yang akan
terjadi jika keputusan diaplikasikan. Bagi kalangan bisnis, mereka menyebut
orang dengan karakter seperti ini secara ekstrem disebut sebagai tipe peragu.
3.Suka
pada risiko (RISK SEEKER atau RISK LOVER)
Karakteristik ini adalah tipe yang begitu
suka pada risiko. Mereka terbiasa dengan spekulasi dan itu pula yang membuat
penganut karakteristik ini selalu saja ingin menjadi pemimpin dan cenderung
tidak ingin menjadi pekerja. Mental risk seeker adalah mental yang dimiliki
oleh pebisnis besar dan juga pemimpin besar. Karakter ini yang paling
mendominasi jika dilihat dari kedekatannya pada risiko
2.3TIPE – TIPE RISIKO
a.Pure
Risk (Risiko Murni)
suatu
ketidakpastian terjadi, maka kejadian tersebut pasti menimbulkan kerugian. Risiko murni dapat dikelompokkan menjadi 3 tipe risiko,
yaitu:
JRisiko aset fisik:
risiko yang berakibat timbulnya kerugian pada aset fisik suatu
perusahaan/organisasi. Contoh: kebakaran, banjir, gempa, tsunami, gunung
meletus, dll.
JRisiko Karyawan: risiko yang disebabkan karena apa yang
dialami oleh karyawan yang bekerja di suatu perusahaan atau organisasi. Contoh
: kecelakaan kerja yang menyebabkan terganggunya aktivitas perusahaan.
JRisiko Legal : risiko dalam bidang kontrak yang
mengecewakan atau kontrak tidak berjalan sesuai dengan rencana. Contoh :
perselisihan dengan perusahaan lain sehingga adanya persoalan seperti
penggantian kerugian.
b.Speculative
Risk (Risiko Spekulatif)
Suatu
ketidakpastian akan terjadinya untung atau rugi. Risiko ini dapat dikelompokkan menjadi 4 tipe yaitu:
JRisiko Pasar: risiko yang terjadi dari pergerakan harga
pasar. Contoh: harga saham mengalami penurunan sehingga menimbulkan kerugian.
JRisiko kredit: risiko yang terjadi karena counter party gagal memenuhi
kewajibannya kepada perusahaan. Contoh : timbulnya kredit macet, persentase
piutang meningkat.
JRisiko likuiditas: risiko karena ketidakmampuan memenuhi
kebutuhan kas. Contoh: kepemilikan kas menurun, sehingga tidak mampu membayar
hutang secara tepat, menyebabkan perusahaan harus menjual aset yang
dimilikinya.
JRisiko operasional: risiko yang disebabkan pada kegiatan
operasional yang tidak berjalan lancar. Contoh: terjadi kerusakan pada komputer
karena berbagai hal termasuk terkena virus.
c.Static
Risk (Risiko Statis)
Mungkin
sifatnya murni atau spekulatif asalnya
dari masyarakat yang tidak berubah yang berada dalam keseimbangan stabil.
Contoh : ketidakpastian terjadinya sambaran petir.
d.Dynamic
Risk (Risiko Dinamis)
Mungkin
sifatnya murni atau spekulatif
timbul dari perubahan yang
terjadi dalam masyarakat. Contoh : urbanisasi, perkembangan teknologi.
e.Subjective
Risk (Risiko Subyektif)
Berkaitan
dengan kondisi mental seseorang yang mengalami keragu-raguan dan kecemasan akan
terjadinya kejadian tertentu.
f.Objective
Risk (Risiko Obyektif)
probabilitas
penyimpangan aktual
dari yang diharapkan sesuai dengan pengalaman.
2.4SUMBER – SUMBER RISIKO
Menurut Eduardus Tandelilin,
sumber-sumber risiko adalah :
¢Risiko
suku bunga. Naik turunnya suku bunga perbankan
akan mempengaruhi keputusan publik dalam menetapkan keputusannya. Jika suku
bunga naik maka publik akan menyimpan dananya di bank seperti dalam bentuk
deposito, namun jika turun maka publik akan menggunakan dananya untuk membeli
saham.
¢Risiko
pasar. Kondisi risiko pasar dapat dilihat pada saat fluktuasi
pasar, krisis moneter, dan resesi ekonomi.
¢Risiko
Inflasi. Saat inflasi daya beli masyarakat turun, sedangkan saat
normal daya beli masyarakat naik.
¢Risiko
Bisnis.
¢Risiko
Finansial.
¢Risiko
Likuiditas.
¢Risiko
Nilai tukar mata uang
¢Risiko
Negara. Berkaitan dengan keadaan politik.
2.5 PERHITUNGAN RISIKO
Sekedar informasi bahwa risiko yang terkecil itu adalah
obligasi (bond) yang dijual oleh pemerintah. Sedangkan risiko yang tertinggi
adalah saham yang dijual oleh perusahaan. Ada model perhitungan risiko yang
paling sering dipergunakan khususnya dalam investasi, yaitu secara standar
deviasi dan varian. Untuk melengkapi perhitungan ini agar lebih komprehensif,
terutama jika timbul suatu persoalan seperti penyebaran return yang diharapkan
sangat besar, maka dipergunakan perhitungan tambahan dengan menggunakan
coefficient of variation atau risiko relatif.
{Standar
deviasi atau simpangan baku adalah suatu estimasi probabilitas perbedaan return
nyata dari return yang diharapkan.
{Varian
(nilai kuadrat dari standar deviasi) adalah :
üDalam
statistik, varian adalah ukuran penyerapan dari penyebaran probabilitas. Hal
ini merupakan pangkat dua deviasi standar. Misalnya, bila standar deviasinya
20, maka variannya adalah 400.
üSelisih
pendapatan, biaya, dan keuntungan terhadap jumlah yang direncanakan. Varian
dihitung pada pusat pertanggungjawaban, penganalisisan. Dan varian yang tidak
menguntungkan, diselidiki untuk mencari kemungkinan perbaikan.
{Coefficient
of variation adalah ukuran penyebaran relatif atau risiko relatif.
Di mana :
varians return
standar deviasi
return yang diharapkan dari
suatu surat berharga
return ke-i yang
mungkin terjadi
probabilitas kejadian
return ke-i
2.6 PERHITUNGAN TINGKAT PENGEMBALIAN
¨Perhitungan
Expected Retun Pada Sekuritas
Untuk menghitung return yang diharapkan dari suatu
sekuritas yang harus dipahami oleh seorang investor adalah dengan memahami
probabilitas dari kejadian yang akan terjadi.
Rumusnya
:
Dimana
:
E (R)
=
Expected Return atau return yang diharapkan dari suatu sekuritas
Ri = Return ke-i yang mungkin terjadi
Pri = Probabilitas kejadian return ke-i
n = banyaknya return yang mungkin
terjadi
¨Perhitungan
Expected Retun Pada Portofolio
Perhitungan
expented retun pada portofolio dapat menggunakan rumus :
Dimana
:
E (RP)
= expected return portofolio
E (RA)
= expected return saham A
E (RB)
= expected return saham B
XA = uang yang diinvestasikan pada saham A
XB = uang yang diinvestasikan pada saham B
¨Perhitungan
Expected Return Dari Saham
Rumus
:
Di
mana :
r = keuntungan yang diharapkan dari saham
D1 = Dividen tahun 1
PO
= harga beli
P1
= harga jual
2.7 MODEL YANG DI GUNAKAN DALAM RISIKO DAN
TINGKAT
PENGEMBALIAN
i.CAPM
(Capital Asset Pricing Model)
Menurut
William F. Sharpe, CAPM atau model penentuan
harga aset modal adalah model penetapan harga aktiva equilibrium yang
menyatakan bahwa expected return atas sekuritas tertentu adalah fungsi linier
positif dari sensitifitas sekuritas terhadap perubahan return portofolio. CAPM
menjelaskan hubungan antara return dengan beta (β). Beta menunjukkan hubungan (gerakan) antara saham dan pasarnya
(saham secara keseluruhan).Besarnya risiko perusahaan ditentukan oleh beta.
β>1 menunjukkan harga saham
perusahaan lebih mudah berubah dibandingkan indeks pasar. Hal ini menunjukkan
bahwa kondisi saham menjadi lebih berisiko, artinya jika saat terjadi perubahan
pasar 1% maka pada saham X akan mengalami perubahan lebih besar dari 1%.
β<1 menunjukkan tidak terjadinya
kondisi yang mudah berubah berdasarkan kondisi pasar.
β=1 menunjukkan bahwa kondisinya sama
dengan indeks pasar.
Di mana :
Ri= Return saham i
Rf
=
Return investasi bebas risiko (Risk Free)
βi
=
beta saham i (indikator risiko sistematis)
Rm
= Return pasar (return market)
ii.APT ( Arbitrage Pricing
Theory)
APT
merupakan teori yang dikembangkan oleh Stephen A. Ross pada tahun 1976 dimana
beliau menyatakan bahwa harga suatu aktiva bisa dipengaruhi oleh berbagai
faktor.
Dimana :
Ri= Return saham i
αi = Alpha saham i
βi
=
beta saham i
Rm
= Return pasar
ei = random error
2.8 PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM BERBAGAI KONDISI
Tindak lanjut dalam bidang investasi yang terpenting
adalah pengambilan keputusan (decision
making). Ada berbagai kondisi yang sering muncul dalam pengambilan
keputusan namun secara umum dapat dibagi menjadi tiga saja, yaitu:
1)Kondisi
pasti
Dalam
kondisi pasti proses pengambilan keputusan
yang dilakukan adalah berlangsung tanpa ada banyak alternatif, keputusan yang diambil
sudah jelas pada fokus yang dituju. Ada beberapa teknik yang bisa dipergunakan sebagai penyelesaian
pengambilan keputusan dalam kondisi pasti ini, yaitu menggunakan program linier
atau secara aljabar linier, dan analisis jaringan kerja.
2)Kondisi
Tidak Pasti
Pada
kondisi seperti ini proses lahirnya keputusan lebih sulit atau lebih kompleks dalam artian keputusan yang
dibuat belum diketahui nilai probabilitas atau hasil yang mungkin diperoleh.
Situasi seperti ini dimungkinkan sekali terjadi dikarenakan minimnya
informasi yang diperoleh baik informasi yang
sifatnya hasil penelitian maupun rekomendasi lisan yang bisa dipercaya. Untuk
menghindari timbulnya masalah dalam situasi yang tidak pasti seperti ini adalah
sebaiknya melakukan riset terlebih dahulu, mencari informasi sebanyak mungkin
dan mempergunakan beberapa metode pengambilan keputusan yang paling sesuai
dengan setiap kondisi masalah yang mungkin timbul. Hal ini dapat
menggunakan:
Umetode laplace→
proses pengambilan keputusan dengan asumsi bahwa probabilitas terjadinya
berbagai kondisi adalah sama besarnya.
UMetode maximax→
proses pengambilan keputusan dengan hanya mengutamakan hasil yang paling
optimistik dan mengabaikan sisi lain yang mungkin terjadi.
eff Bezos “AMAZON” Menjadi Raksasa Ritel Berkat Affliate
Marketing.
Amazon berhasil
mengukuhkan diri sebagai retailer online nomor satu di dunia. satu hari saja,
Amazon berhasil menjual buku Harry Potter & the Order of the Phoenix
sebanyak 1,4 juta eksemplar. Selain itu, penggemar Harry Potter telah
meningkatkan penjualan Amazon menjadi 37 persen pada kuartal kedua, dengan
nilai penjualan 1,1 miliar dolar AS.
Amazon berhasil meraih
pangsa pasar besar berkat program affiliate marketing yang ivovatif. Pada
dasarnya affiliate marketing adalah menjual barang orang lain dengan membuka
afiliasi dengan para pemasar di Internet. Selain didukung hampir sejuta
affiliate marketer, Amazon juga bekerja sama dengan retailer lain seperti
Target d an Toy R’Us untuk melayani lebih dari 38 juta pengunjung situsnya sebulan.
Sosok di balik Amazon.com
Inc adalah Jeffrey P. Bezos. Semula tak ada yang menyangka perusahaan yang
didirikannya di ruang garasi pada Juli 1995 bakal meraksasa. Soalnya, yang
dilakukan hanyalah menjual buku melalui internet. Bezos menawarkan buku dengan
harga murah dan membebaskan dari biaya pengiriman bila pesanan melebihi nilai
25 dolar AS.
Namun, apa yang diraih
Amazon dalam 8 tahun terakhir – dengan penjualan mencapai 5 miliar dolar AS
setahun – setara dengan apa yang dicapai raksasa toko gudang WalMart selama 20
tahun. Ia tertarik pada penjualan ritel melalui internet pada 1994 ketika masih
menjadi penganalisis bisnis di New York. setelah melalukan riset terhadap
sukses beberapa perusahaan mail order, Bezos berkesimpulan, buku merupakan
produk sempurna untuk dijual via Internet.
Jeff Bezos semakin
ekspansif dengan membeli usaha-usaha prospektif seperti drugstore.com yang
menjual obat-obatan secara online, Pets.com pemasok hewan peliharaan online,
toko buah di Internet HomrGrocer.com, penyedia peralatan rekreasi Gear.com
serta sejumlah retailer berbasis jaringan internet.
KESIMPULAN
:
Dari kasus tersebut dapat disimpulkan bahwa
watak, sifat, jiwa dan nilai kewirausahaan muncul dalam bentuk perilaku
kewirausahaan dapat terlihat dengan ciri-ciri sebagai berikut : percaya diri,
berorientasi pada tugas dan hasil, berani mengambil resiko, berjiwa pemimpin
serta berorientasi ke masa depan. Karena jiwa kewirausahaan tidak hanya
dimiliki oleh pengusaha dan berlaku dalam bidang bisnis, tetapi juga dimiliki
oleh setiap orang yang memiliki jiwa kreatif dan inovatif baik secara
individual maupun kelompok. Keberhasilan berwirausaha sangat bergantung dari
beberapa faktor seperti kemauan, kemampuan, peluang serta kesempatan.
Wirausaha selalu berkomitmen dalam
melakukan tugasnya dan tidak setengah-setengah, karena dalam melakukan
tugasnya, wirausaha selalu tekun, ulet, dan pantang menyerah serta tindakannya
tidak didasari oleh spekulasi melainkan perhitungan yang matang walaupun
wirausaha berani mengambil resiko terhadap pekerjaanya tersebut. Dengan adanya
hal tersebut akan mendorong wirausaha untuk terus berjuang mencari peluang yang
baru agar dapat memperoleh hasil yang diharapkan.
Tiada kata kata indah
yang sanggup melukiskan kasihmu mama.Engkaulah sosok
pahlawan sejati, pengukir generasi masa depan penuh cinta. Kehadiranmu
selalu dinanti. Dekapan hangatmu selalu ku rindukan, engkaulah wanita istimewa yang dihadirkan Tuhan ke muka bumi ini.
Engkaulah pewaris surga yang selalu didoakan para malaikat.
Dengan kelembutanmu, engkau
mendekapnya penuh kasih. Cintamu pada anak mu sanggup mengalahkan
lelahmu. Beratnya perjuangan selama sembilan bulan mengandungnya tunai
sudah saat mendengar tangisnya hadir di muka bumi ini. Rasa letih dan
sakit pun tiada lagi berarti ketika engkau bisa mendekapnya erat ke
dalam dadamu. mama ketulusan cintamu yang terangkum dalam kata kata indahmu
terus mengaliri aliran darahnya bersama dengan tetesan air susumu.
Murninya cintamu telah mengantarkan bayi mungilmu tumbuh dengan sehat. mama bayi mungilmu kini sudah bisa bicara menyapamu.
Bayi mungilmu kini
sudah mampu berlari kecil mengitari perdunya bunga-bunga di taman. Dia
amat lucu dan sangat menggemaskan. Mama, perjalanan panjang berliku, penuh onak dan duri engkau hadapi
dengan senyum mengembang. Sekali lagi engkau selalu menyambut setiap
ujian tanpa keluhan. Bahkan kata kata indah
selalu engkau lantunkan tak kenal henti. Hari demi hari, bulan demi
bulan, dan tahun pun terus berganti. Bayi mungilmu kini telah beranjak
dewasa. Dan engkau pun tetap setia mendampinginya. Engkau selalu ada di
sisinya dalam suka dan duka. Meskipun kemarahan kadang menyelinapi hati
yang mulai rapuh, namun kesabaranmu tidak pernah lekang oleh waktu.
Kasih sayangmu tidak pernah lapuk oleh usia. Engkau tetap setia menemani
buah hatimu.
mama tiada kata kata indah di dunia ini kecuali
hanya untukmu. mama, doamu begitu teristimewa di sisi-Nya.
Kata-katamu adalah pengharapan yang akan selalu didengar-Nya.
Mama,
keikhlasanmu menanggung beratnya perjuangan akan berbalas indah.
Tersenyumlah mama. Surga-Nya yang Maha Luas kini telah menantimu.
Banyak penelitian telah difokuskan pada keragaman
kerja kelompok, tapi sarjana manajemen memiliki hanya baru-baru ini difokuskan
pada inklusi. Akibatnya, literature inklusi masih dalam pengembangan, dengan
perjanjian terbatas pada dasar-dasar konseptual dari konstruksi ini. ODT
(Brewer, 1991: 477) menjelaskan ketegangan terkait dengan "kebutuhan
manusia untuk validasi dan kesamaan kepada orang lain (di satu sisi) dan
kebutuhan countervailing untuk keunikan dan individuasi (di sisi lain).
"Brewer menyatakan bahwa individu berusaha untuk menyeimbangkan dua
kebutuhan melalui tingkat optimal dimasukkan dalam kelompok mana mereka
berasal. Untuk memenuhi mendasar manusia kebutuhan akan rasa memiliki
(didefinisikan sebagai kebutuhan untuk membentuk dan memelihara yang kuat,
stabil hubungan interpersonal; Baumeister & Leary, 1995), orang memilih
identitas sosial dengan kelompok-kelompok tertentu dan mencari penerimaan ke
dalam kelompok tersebut. Penerimaan, dan rasa koneksi dengan orang lain yang
menciptakan, mencegah isolasi yang mungkin terjadi jika seseorang menjadi
sangat terindividuasi (Pickett, Silver, & Brewer, 2002).
Ada banyak keuntungan yang terkait dengan menjadi
anggota yang diterima kelompok. Individu atribut karakteristik positif kepada
anggota lain dari mereka di-kelompok dan menampilkan dalam kelompok pilih kasih
(Turner, 1975). Loyalitas, kerjasama, dan kepercayaan di antara anggota
kelompok berfungsi untuk meningkatkan keamanan anggota individu (Brewer, 2007).
Namun, jika anggota kelompok dianggap terlalu mirip, maka individu menjadi
saling dipertukarkan dan kebutuhan untuk keunikan (didefinisikan sebagai kebutuhan
untuk mempertahankan khas dan dibedakan rasa diri) tidak terpenuhi (Snyder
& Fromkin, 1980). Ketika kebutuhan ini menjadi aktif, individu
mendefinisikan diri mereka dalam hal keanggotaan kategori yang membedakan diri
dari orang lain dengan membuat perbandingan dalam kelompok mereka (misalnya,
saya berbeda dari yang lain) atau kepada orang lain di luar kelompok mereka
(misalnya, kelompok kami berbeda dari yang lain). Menurut Pickett, Bonner, dan
Coleman (2002), individu memilih untuk mengidentifikasi secara social dengan
kelompok tertentu ketika memungkinkan untuk kepuasan kebutuhan untuk kedua rasa
memiliki dan keunikan. Pengujian ODT ini menunjukkan bahwa walaupun kedua
kebutuhan itu penting, situasi timbul dalam yang satu atau kebutuhan lain
menjadi penting (Correll & Park, 2005; Pickett & Brewer, 2001).
Dengan demikian, pentingnya kebutuhan akan rasa
memiliki keunikan atau untuk dapat bervariasi tergantung pada konteks di mana
seseorang berada. Jika salah satu kebutuhan diaktifkan sebagai akibat dari keadaan
kontekstual yang terkait dengan identitas sosial tertentu, bahwa identitas
sosial dapat menjadi lebih menonjol dalam situasi itu. Misalnya, jika Asia
tunggal Amerika bekerja di sebuah tim bule, dia butuhkan untuk belongingness
dapat diaktifkan bila idenya adalah public ditolak dan dia rekan penolakan
dengan rasnya (Kim, Atkinson, & Yang, 1999).
Ketika rasa memiliki dan keunikan kebutuhan
ditempatkan dalam bahaya, studi menunjukkan ODT bahwa individu akan terlibat
dalam upaya untuk mencapai keseimbangan yang mereka cari. Dalam situasi di yang
kebutuhan individu untuk rasa memiliki keunikan atau diaktifkan, upaya untuk
mengembalikan menyeimbangkan termasuk diri stereotip, diferensiasi antar
kelompok, dan menempatkan nilai yang lebih besar pada tertentu sosial identitas
(Jetten, Spears, & Manstead, 1998;. Pickett, Bonner, et al, 2002; Pickett,
Silver, et al, 2002.). Studi ini menyoroti bagaimana motivasi individu yang
kuat 'adalah untuk menjaga tingkat kepuasan yang optimal dari kedua kebutuhan.
ketegangan antara rasa memiliki dan keunikan adalah tema dasar dalam literatur
inklusi serta dalam beberapa literatur keragaman yang difokuskan pada individu
dalam kelompok.
Secara khusus, baik literatur menimbulkan bahwa
beberapa kelompok demografis (misalnya, wanita, minoritas ras) memiliki lebih
sedikit kesempatan untuk menjadi bagian dari kelompok dihargai, seperti
kelompok yang cenderung menempati posisi lebih tinggi di perusahaan, karena
fitur unik mereka relatif terhadap individu (misalnya, Kaukasia pria) yang
memegang posisi tersebut (Rosette, Leonardelli, & Phillips, 2008).
Perjuangan yang sedang berlangsung bagi perempuan dan kelompok minoritas untuk
mencapai keberhasilan memiliki semakin sarjana keragaman terinspirasi untuk
berdebat untuk pentingnya lingkungan organisasi di mana "Keragaman adalah
meresap dan bagian dari perspektif keseluruhan dan strategi yang termasuk semua
karyawan perbedaan, dan perbedaan-perbedaan itu sendiri dianggap peluang bagi
kedua individu dan organisasi pembelajaran "(Chrobot-Mason & Thomas,
2002: 324).
Konseptualisasi Inklusi sebagai Melibatkan
Belongingness dan Keunikan
Inklusi di definisikan sebagai sejauh mana seorang
karyawan merasakan bahwa ia adalah terhormat anggota kelompok kerja melalui
pengobatan alami yang memenuhinya kebutuhan rasa memiliki dan keunikan.
Membangun ODT, definisi ini berangkat dari ada penelitian inklusi dengan secara
eksplisit berfokus pada kedua rasa memiliki dan keunikan. keunikan yang akan
memberikan kesempatan bagi kinerja kelompok ditingkatkan ketika unik individu
adalah anggota yang diterima kelompok dan kelompok menghargai unik tertentu
karakteristi. Sebagai contoh, seorang karyawan yang lebih tua dari anggota kelompok
kerja lainnya mungkin memiliki pengetahuan tentang perusahaan dan industri yang
yang mungkin berharga ke grup. Jika diperlakukan sebagai orang dalam yang
memiliki pengetahuan sangat dihargai, maka karyawan yang lebih tua akan
memiliki rasa yang kuat dari inklusi dan kelompok akan dapat manfaat melalui
perbaikan kinerja. Ada dukungan dalam literatur keragaman untuk keuntungan
mengalami rasa memiliki dan keunikan secara bersamaan. Sebagai contoh,
minoritas anggota (yang unik) dengan jaringan yang dikembangkan (dan dengan
demikian rasa belongingness) melaporkan tingkat tinggi optimisme karir
(Friedman, Kane, & Cornfield, 1998). Pada kelompok tingkat, kelompok kerja
yang beragam yang mengadopsi perspektif integrasi-dan learning menggabungkan
baik keunikan (melalui melihat keragaman sebagai sumber daya) dan kepemilikan
(melalui anggota merasa dihargai dan dihormati; Ely & Thomas, 2001). Kerja
kelompok yang mengadopsi integrasi-dan-perspektif pembelajaran menunjukkan
berkualitas tinggi analisis, dapat memfasilitasi efektif lintas organisasi
kolaborasi, dan memungkinkan individu dalam kelompok untuk meningkatkan keterampilan
(Ely & Thomas, 2001).
Di ujung lain dari spektrum adalah kombinasi
low-belongingness/low-uniqueness bahwa kita telah diberi label eksklusi. Inilah
tempat dimana individu tidak diperlakukan sebagai organisasi insider dengan
nilai unik pada kelompok kerja, tetapi ada karyawan lain atau kelompokyang
dianggap orang dalam. Ketika kebutuhan untuk rasa memiliki adalah digagalkan,
bisa ada berbahaya kognitif, emosional, perilaku, dan hasil kesehatan
(Baumeister, DeWall, Ciarocco, & Twenge, 2005; Blackhart, Nelson, Knowles,
& Baumeister, 2009; DeWall, Maner, & Rouby, 2009). Hitlan, Clifton, dan
DeSoto (2006) menemukan bahwa pengecualian tempat kerja (penolakan oleh Alpha rekan kerja dan supervisor)
terutama merugikan sikap kerja dan psikologis kesehatan laki-laki dibandingkan
dengan perempuan. Sedangkan penelitian pengecualian sebelum memiliki difokuskan
pada penolakan sosial, sehingga menekankan kebutuhan belongingness, kami
berpendapat bahwa bekerja dengan rekan-rekan yang memperlakukan karakteristik
unik (misalnya, cara pandang, pengetahuan, atau informasi) tidak penting atau
tidak relevan juga harus memberikan kontribusi perasaan eksklusi. perspektif baru
pada para eksekutif wanita di manajemen puncak tim menunjukkan bahwa, sementara
perempuan memiliki dampak positif pada kinerja perusahaan (Krishnan & Park,
2005), mereka meninggalkan perusahaan mereka pada tingkat yang lebih tinggi
dari eksekutif pria lakukan. Hal ini disebabkan sebagian untuk kekuasaan mereka
relatif lebih rendah dalam tim manajemen puncak tetapi juga semakin besar pengakuan
modal manusia unik mereka di pasar (Krishnan, 2009). seperti temuan menunjukkan
nilai mempertimbangkan baik belongingness dan keunikan dalam studi eksklusi. Sel
asimilasi, dengan rasa memiliki yang tinggi dan nilai rendah dalam keunikan,
mencerminkan situasi di mana seorang individu yang unik diperlakukan sebagai
orang dalam ketika sesuai dengan norma yang dominan dari budaya. (1963) karya
klasik Goffman pada stigma menunjukkan bahwa orang dapat memilih untuk tidak
mengungkapkan informasi yang menyoroti karakteristik stigma mereka memiliki
dalam usaha untuk diterima oleh orang lain.
Ketika individu memiliki "tidak diinginkan"
karakteristik yang tidak nampak (sebuah stigma tak terlihat seperti agama,
kecacatan, atau seksual orientasi; Bell, Ozbilgin, Beauregard, & Surgevil,
dalam pers; Ragins, 2008), mereka memiliki pilihan, apakah atau tidak untuk
mengungkapkan keunikan dan pengetahuan terkait, pengalaman, atau persepsi. Bahkan
ketika karakteristik unik tampak jelas (lebih mungkin terjadi untuk ras, jenis
kelamin, atau usia), beberapa individu memilih untuk mengecilkan cara yang
mereka mungkin berbeda dari Alphakelompok. Phillips, Rothbard, dan Dumas (2009)
berpendapat bahwa hal ini terjadi paling sering pada beragam lingkungan yang
melibatkan individu yang berbeda sehubungan dengan status. Misalnya, Ely (1995)
menemukan bahwa perempuan pengacara mengadopsi perilaku yang lebih maskulin dalam
rangka agar sesuai dengan cetakan dari seorang pengacara sukses. penelitian
terbaru oleh Hewlin (2009) difokuskan pada façade sesuai, yang terjadi ketika
individu menekan nilai-nilai pribadi dan berpura-pura merangkul nilai-nilai
organisasi. Dia menemukan yang dirasakan nonparticipative lingkungan, status
minoritas dirasakan, pemantauan diri, dankolektivisme secara signifikan terkait
dengan fasad kesesuaian. Emosional kelelahan kemudian dimediasi hubungan antara
fasad kesesuaian dan keinginan berpindah, menunjukkan konsekuensi negatif bagi
individu yang memilih untuk mengasimilasi sejauh yang unik aspek yang mereka
nilai pribadi yang disembunyikan atau, dalam kenyataannya, bahwa mereka
bertindak dengan cara yang kontra terhadap nilai-nilai pribadi. Snyder dan
Fromkin (1980) mengamati bahwa kebanyakan orang memiliki kebutuhan untuk
menjadi cukup unik tapi jika orang berbeda dalam motif ini. Untuk Misalnya,
Dollinger (2003) menunjukkan bahwa orang dengan kebutuhan tinggi untuk keunikan
cenderung lebih kreatif.
Demikian juga, orang yang memberikan nilai lebih
tinggi pada keunikan mereka lebih mungkin untuk publik menampilkan unsur-unsur
unik (Imhoff & Erb, 2008). Selanjutnya, organisasi semakin menekankan
kemampuan unik dari karyawan mereka sebagai bentuk manusia modal (Lepak &
Snell, 1999) dan sumber keunggulan kompetitif. Dalam beberapa organisasi
pengaturan, mungkin ada karyawan yang menawarkan kemampuan yang unik dan langka
yang tidak dianggap atau diperlakukan sebagai orang dalam organisasi. Skenario
ini tercermin dalam akses-legitimasi dan perspektif ditemukan di Ely dan Thomas
(2001) penelitian kualitatif kerja rasial beragam kelompok. Kerja kelompok
mengadopsi perspektif ini mengakui nilai keberagaman sebagai cara mencapai pasar
tertentu, tetapi anggota minoritas tidak dianggap sebagai bagian dari lebih
besar budaya organisasi dan tunduk pada stereotip isolasi dan berbasis ras (Ely
& Thomas, 2001). Salah satu cara bahwa organisasi telah menempatkan
diferensiasi ke dalam praktek adalah melalui pilihan bebas, dimana organisasi membeli
jasa sangat berbakat dan orang yang unik untuk memecahkan masalah organisasi,
tetapi tanpa membuat kerja permanen penawaran (Riley & Buckley, 2008).
Inklusi Sastra Melihat literatur yang ada pada
inklusi, jelas bahwa ada kesenjangan yang cukup besar antara para peneliti
sehubungan dengan definisinya. Pelled, Ledford, dan Mohrman (1999:1014)
mendefinisikan inklusi sebagai "gelar yang karyawan akan diterima dan
diperlakukan sebagai . insider oleh orang lain dalam suatu sistem kerja
"Roberson (2006: 217) berpendapat bahwa inklusi mengacu pada" penghapusan
hambatan untuk partisipasi penuh dan kontribusi karyawan dalam organisasi,
" dan Miller (1998: 151) juga menggambarkan inklusi sebagai sejauh mana
individu beragam "Diperbolehkan untuk berpartisipasi dan diaktifkan untuk
berkontribusi secara penuh." Demikian juga, Lirio, Lee, Williams, Haugen,
dan Kossek (2008: 443) disebut inklusi sebagai "ketika individu merasa
rasa memiliki, dan perilaku
inklusif seperti eliciting dan menghargai kontribusi
dari semua karyawan adalah bagian dari kehidupan sehari-hari dalam organisasi
"Selain itu., Avery, McKay, Wilson, dan Volpone (2008: 6) menyatakan bahwa
inklusi adalah "sejauh mana karyawan percaya organisasi mereka terlibat
dalam upaya untuk melibatkan semua karyawan dalam misi dan operasi dari
organisasi sehubungan dengan bakat masing-masing "Wasserman, Gallegos., dan
Ferdman (2008: 176) mendefinisikan budaya sebagai inklusi yang ada ketika
"orang dari segala social identitas kelompok [memiliki] kesempatan untuk
hadir, untuk memiliki suara mereka didengar dan dihargai, dan untuk terlibat
dalam kegiatan inti atas nama kolektif. "Akhirnya, Holvino, Ferdman, dan
Merrill-Sands (2004: 249) mendefinisikan organisasi, multikultural inklusif
sebagai "salah satu di yang keragaman pengetahuan dan perspektif bahwa
anggota kelompok yang berbeda membawa kepada organisasi telah membentuk
strategi, kerja, manajemen dan sistem operasi, dan intinya nilai dan norma
untuk sukses. "
Dua tema umum yang jelas dalam definisi ini yang
konsisten dengan ODT. Pertama, ada tema belongingness, seperti ditunjukkan oleh
beberapa kata kunci dan frase di atas definisi seperti "diterima,"
"orang dalam", dan "rasa memiliki." Tema kedua Keunikan ini
ditunjukkan dengan frase kunci seperti "menghargai kontribusi dari seluruh
karyawan," "Berkontribusi secara penuh," "individu
bakat," dan "untuk memiliki suara mereka didengar dan dihargai."
Tema keunikan mencerminkan nilai keunikan daripada keunikan didefinisikan
secara ketat dalam arti numerik. Meskipun berfokus pada nilai keunikan berangkat
dari pekerjaan empiris dalam literatur mana keragaman keunikan didefinisikan
secara numerik (misalnya, Hornsey & Hogg,
1999), kerja konseptual pada ODT telah mengakui hubungan antara yang dinilai
dan keunikan; misalnya, Correll dan Park (2005) membahas bagaimana kelompok
adalah berharga jika memvalidasi sebuah ada individu (unik) keyakinan, dan Shepherd
dan Haynie (2009) berpendapat bahwa 'pengusaha kekhasan berasal dari
persyaratan bahwa mereka dihargai dalam kompetitif pasar. Di ujung lain
spektrum, gagal untuk mengenali nilai unik identitas dibahas dalam literatur
tentang stigma.
Stigma adalah "atribut, karakteristik, atau pengalaman
yang menyampaikan identitas yang mendevaluasi dalam beberapa pengaturan sosial,
"dan memilih
untuk menjaga mereka pribadi memiliki potensi untuk "mengambil tol pada
individu-individu melalui psikologis ketegangan, stres emosional, dan stres
yang berhubungan dengan penyakit "(Ragins, 2008: 194). Dengan demikian,
kami kerangka kerja dan paruh kedua definisi kita tentang inklusi kerja kelompok
berpendapat untuk nilai dalam keunikan, konsisten dengan fokus model kekhasan
yang optimal pada kepuasan kebutuhan keunikan, penekanan dalam literatur
inklusi yang ada pada individu yang dinilai untuk perspektif mereka yang unik,
dan bukti dari literatur stigma yang mendevaluasi identitas tersembunyi
sehingga untuk menghindari penolakan oleh kelompok kerja. Karena literatur inklusi
masih dalam masa pertumbuhan, penting untuk dicatat bahwa tidak ada belum
banyak literatur yang mencerminkan inklusi seperti yang kita mendefinisikannya.
Ada literatur yang terpisah mencerminkan rasa memiliki dan tema keunikan,
tetapi ada sedikit penelitian yang mencakup baik tema bersama. Dalam sisa
bagian ini, kita meninjau kecil tapi berkembang literatur tentang inklusi,
dengan penekanan pada kehadiran tema-tema belongingness dan keunikan.
Sebuah pengecualian adalah pekerjaan Mor Barak, yang
penelitiannya terutama dalam pekerjaan social lapangan. Mor Barak menyatakan
bahwa "karyawan persepsi inklusi-eksklusi dikonseptualisasikan sebagai
kontinum dari sejauh mana individu merasa bagian dari organisasi penting proses.
Proses ini mencakup akses terhadap informasi dan sumber daya, keterhubungan kepada
atasan dan rekan kerja, dan kemampuan untuk berpartisipasi dan mempengaruhi
pengambilan keputusan proses. "Mor Barak dikembangkan model teori inklusi
di mana ia berpose bahwa keragaman dan budaya organisasi akan berkontribusi pada
persepsi inklusi-eksklusi, yang kemudian akan menyebabkan kepuasan kerja,
komitmen organisasi, kesejahteraan individu, dan tugas efektivitas. Beberapa
penelitian telah menguji elemen model Mor Barak. Mor Barak, Cherin, dan Berkman
(1998) menunjukkan bahwa di antara sekelompok karyawan elektronik, pria dan
Kaukasia yang lebih mungkin dibandingkan kelompok lain merasa disertakan.
Findler, Angin, dan Mor Barak (2005) menemukan bahwa dukungan untuk hubungan
antara inklusi dan keragaman agak bervariasi, dengan jenis kelamin menampilkan
link hanya konsisten untuk jaringan informasi dan pengambilan keputusan
(seperti yang perempuan melaporkan tingkat lebih rendah dari inklusi
dibandingkan laki-laki itu). Namun, inklusi tidak menyebabkan komitmen dan
kepuasan. Dalam perluasan model asli untuk menyertakan omset niat, Mor Barak,
Levin, Nissly, dan Lane menemukan bahwa pengecualian dari keputusan membuat
adalah prediktor niat untuk meninggalkan di antara pekerja kesejahteraan anak.
Muda pekerja dan mereka dengan masa yang lebih rendah juga mengalami tingkat
yang lebih tinggi dari pengecualian dari informasi jaringan dan pengambilan
keputusan. Terakhir, Acquavita, Pittman, Gibbons, dan Castellanos-Brown (2009)
menunjukkan dalam studi pekerja sosial yang inklusi-eksklusi dikaitkan dengan
pekerjaan kepuasan.
Setelah memimpin Mor Barak, studi empiris lainnya
telah dilakukan pada inklusi praktek. Pelled dan rekan (1999) difokuskan pada
tiga praktik sebagai indikator inklusi: pengambilan keputusan pengaruh, akses
ke informasi pekerjaan sensitif, dan keamanan kerja. Mereka Hasil penelitian
menunjukkan bahwa perbedaan dalam ras dan gender negatif terkait dan
ketidaksamaan dalam penguasaan dan pendidikan positif dengan tiga indicator inklusi.
Roberson (2006) mengembangkan skala yang membedakan antara keanekaragaman dan
inklusi praktek dan melaporkan bahwa yang terakhir terdiri dari pengaturan kerja
yang kolaboratif dan prosedur resolusi konflik yang diciptakan untuk melibatkan
karyawan dalam pengambilan keputusan yang beragam proses. Menggunakan
metodologi kualitatif, Janssens dan Zanoni (2007) menyimpulkan konteks kerja
yang inklusif cenderung melibatkan praktek mendorong perlakuan yang sama
karyawan sekaligus mengakui perbedaan individu, misalnya, perekrutan etnis
minoritas berdasarkan kemampuan individu bukan pada keanggotaan etnis; tim terdiri
dari etnik yang berbeda melakukan pekerjaan dari status yang sama, dan saling
ketergantungan tugas tinggi memungkinkan untuk sering, komunikasi substantif
antara anggota tim.
Tiga penelitian dieksplorasi persepsi karyawan inklusi.
Stamper dan Masterson (2002) diselidiki dirasakan Status insider dan melaporkan
bahwa dukungan organisasi dirasakan berfungsi sebagai anteseden konstruksi ini.
Selanjutnya, status orang dalam yang dirasakan adalah positif terkait dengan
altruisme dan berhubungan negatif dengan penyimpangan produksi. Meskipun studi
ini tidak termasuk variabel keragaman, itu menyoroti pentingnya pengobatan
(dirasakan organisasi dukungan) yang menciptakan perasaan rasa memiliki (status
orang dalam). Nembhard dan Edmondson 2006) meneliti persepsi karyawan inklusivitas
pemimpin, yang terdiri dari undangan dan apresiasi terhadap kontribusi orang
lain untuk tim. Fokus mereka adalah pada status professional perbedaan (bukan
perbedaan demografis) yang melibatkan pemimpin dokter dan kesehatan lainnya profesional
perawatan bekerja sebagai tim. Mereka menemukan bahwa inklusivitas pemimpin
dikaitkan dengan keamanan psikologis, yang kemudian memberikan kontribusi
terhadap keterlibatan tim. Avery dkk. (2008) meneliti peran inklusi dirasakan
dalam memoderasi hubungan positif antara senioritas dan niat tetap.
Di tiga sampel, ada perbedaan sedikit antara tinggi
senioritas karyawan dalam niat untuk tetap ketika inklusi dirasakan tinggi.
Inklusi Kerangka dan Sastra Keanekaragaman
Perbedaan Antara Kerangka Inklusi kami dan
Keragaman Teori dan Model
Salah satu karakteristik yang membedakan dari
kerangka kerja kami inklusi adalah gagasan bahwa individu ingin merasakan rasa
memiliki, serta merasa dihargai, untuk atribut yang unik. Sebaliknya, beberapa
teori keragaman dan konstruksi (misalnya, kesamaan demografis) terkait dengan
mereka lebih menekankan pada manfaat dari kesamaan, sehingga berfokus pada rasa
memiliki tema dan tidak tema keunikan. Misalnya, perspektif teoritis
paling sering diandalkan dalam literatur keanekaragaman (demografi relasional,
identitas social teori, dan paradigma kesamaan-tarik) berpendapat bahwa orang
mencari milik kelompok dan cenderung memperlakukan orang di dalam-kelompok
lebih baik daripada yang di luar kelompok (Byrne, 1971; Lemyre & Smith,
1985; Riordan & Weatherly, 1999). Empiris temuan didasarkan pada teori-teori
ini sering keragaman yang ditawarkan untuk mendukung argumen bahwa individu
yang mirip dengan kelompok kerja mereka melaporkan sikap positif terutama
sebagai akibat dari rasa memiliki. Misalnya, kesamaan ras telah dikaitkan
dengan keinginan yang lebih besar dan kepuasan, wawancara peringkat yang lebih
tinggi, dan perilaku komunikasi yang lebih baik dan dengan mengurangi hubungan
konflik, niat untuk pergi, dan omset. Selain itu, kesamaan gender telah
ditemukan positif berhubungan dengan kepercayaan, LMX, kelompok kohesi,
perasaan kompetensi, lampiran psikologis, dan niat untuk tinggal.
Namun, temuan penelitian yang dihasilkan dari fokus
pada kesamaan (belongingness) sering telah dicampur (misalnya, Mannix &
Neale, 2005; Riordan, 2000), yang menunjukkan kemungkinan bahwa kesamaan
demografis mungkin tidak selalu mempromosikan rasa rasa memiliki pada sendiri
dan juga bahwa hal itu mungkin tidak cukup untuk memastikan hasil positif (lih.
Riordan & Wayne, 2008). Sebagai kerangka kerja kami menunjukkan, kami
berpendapat bahwa rasa memiliki harus disertai dengan menjadi bernilai karena
keunikan agar kelompok kerja untuk mempromosikan persepsi karyawan inklusi.
Melalui kebutuhan manusia untuk memuaskan rasa memiliki dan keunikan, persepsi
seperti harus memiliki efek yang lebih konsisten pada hasil berhubungan dengan
individu dalam kelompok kerja, seperti
sebagai pro-organisasi sikap dan perilaku.
Teori lain dalam literatur keragaman pada individu
dalam kelompok menggambarkan pengalaman individu yang beragam sebagai negatif
sebagai akibat dari perbedaan mereka dari yang lain kelompok anggota. Token
(yaitu, orang dengan karakteristik yang dimiliki oleh 15% atau lebih sedikit kelompok
anggota) telah ditandai sebagai mengalami kesulitan, seperti menderita kinerja tekanan
dan ketidaknyamanan perasaan dari yang terlihat dalam kelompok. penelitian
bangunan pada model tarik-seleksi-gesekan dan teori-teori tentang cocok
organisasi telah melaporkan bahwa manajer Amerika Afrika mencapai kurang pas
dengan mereka organisasi, relatif terhadap manajer Putih (Lovelace & Rosen,
1996). Namun, tokenisme efek tidak selalu tegas. Misalnya, wanita pada
pria-miring departemen (Pria terdiri 92% dari anggota departemen) dibandingkan laki-miring
departemen akademik (Pria terdiri 73% dari anggota departemen) tidak merasa
lebih terlihat atau memiliki pekerjaan yang lebih rendah kepuasan (Hewstone et
al., 2006), dan wanita pada pria yang didominasi kelompok telah melaporkan tinggi
kemungkinan tinggal dalam kelompok-kelompok kerja (Chatman & O'Reilly,
2004). Hal ini mungkin sehubungan dengan status yang lebih tinggi diberikan
perempuan-perempuan ini dan kesempatan yang lebih besar status tersebut mungkin
membuat (Mor Barak, 2005).
Temuan ini juga menunjukkan kemungkinan konsisten
dengan kami
inklusi kerangka bahwa menjadi token tidak selalu merupakan pengalaman negatif;
token bisa
menjadi bernilai karena keunikan dan merasakan rasa memiliki. Definisi kami
tentang inklusi
menggambarkan pengalaman individu yang beragam 'memiliki potensi untuk menjadi
positif ketika mereka merasa rasa memiliki dan merasa dihargai untuk karakteristik
yang mereka unik. Sementara kerangka inklusi menyimpang dari literatur tentang
keragaman kelompok dalam beberapa hal, seperti dijelaskan di atas, juga
didasarkan pada literatur ini dengan secara eksplisit menyoroti.Tema yang implisit
untuk beberapa pekerjaan di daerah ini. Secara khusus, integrasi-andlearning perspektif
(juga disebut paradigma belajar-dan-efektivitas) melibatkan mengakui perbedaan
antara orang dan mengenali nilai dari perbedaan-perbedaan,
yang mencerminkan tema keunikan dalam definisi kita tentang inklusi (Ely &
Thomas,
2001; Thomas & Ely, 1996).
Pada saat
yang sama, rasa memiliki adalah komponen kunci dari
integrasi-dan-perspektif pembelajaran karena pendukung mengintegrasikan
perbedaan ke
fungsi kelompok kerja atau organisasi. Pengalaman umum dilaporkan oleh karyawan
di perusahaan di mana perspektif integrasi-dan-learning sudah umum termasuk.
menempatkan prioritas tinggi pada menjelaskan sudut pandang yang berbeda
sehingga semua karyawan bias belajar dari satu sama lain (sugestif keunikan)
dan merasa dihargai dan dihormati oleh
rekan (Sugestif rasa memiliki; Ely & Thomas, 2001). Sehubungan dengan
perspektif lain di Ely dan studi Thomas (akses-dan-legitimasi dan diskriminasi-dan-keadilan),
maka integrasi-dan-perspektif pembelajaran terbukti sangat efektif dengan
memproduksi
pekerjaan yang berkualitas tinggi dan memungkinkan karyawan untuk memperluas
kemampuan mereka. Para integrationand- perspektif pembelajaran juga tertarik
pada dalam studi gender beragam oleh tim Homan dan rekan-rekannya ). Kinerja
tim ditingkatkan dalam tim di mana keanekaragaman menonjol ketika ada iklim
dalam tim ditandai dengan keterbukaan terhadap pengalaman.
Bagaimana Kerangka kami Dapatkah Advance Sastra
Keanekaragaman
Konseptualisasi kita tentang inklusi menjanjikan
untuk memajukan sastra keanekaragaman di beberapa bidang, termasuk bergerak di
luar asumsi yang sering bahwa seorang individu yang tidak sama kepada anggota
kelompok lain mungkin akan dipandang tidak baik. Kerangka inklusi kita memiliki
berpendapat usulan itu, dalam kelompok kerja, anggota dapat dinilai untuk
atribut unik mereka dan bahwa, pada kenyataannya, anggota kelompok berusaha
untuk merasa dihargai untuk atribut mereka yang unik pada saat yang sama waktu
itu mereka ingin menjadi bagian dari kelompok. perlakuan terhadap keunikan
individu dan milik dalam studi tentang kerja kelompok keragaman perlu
disempurnakan tercermin dalam beberapa stream penelitian terakhir, termasuk identitas
sosial kompleksitas, intersectionality, dan faultlines.
literatur menunjukkan bahwa individu memiliki
identitas sosial ganda yang dapat menciptakan dasar untuk kedua keunikan dan kesamaan
dengan anggota kelompok lainnya. Kompleksitas identitas sosial menyoroti bagaimana
orang secara subyektif menggabungkan beberapa identitas sosial, rekonsiliasi
bagaimana individu mungkin berada di luar kelompok anggota berdasarkan salah
satu identitas sosial (misalnya, jenis kelamin) sementara mereka secara
bersamaan adalah ingroup anggota yang lain karakteristik identitas sosial
Kompleksitas identitas sosial "mengacu pada representasi subjektif
individu tentang keterkaitan di antara nya atau identitas kelompok beberapa nya
"(Roccas & Brewer, 2002: 88) dan dapat berkisar dari identitas bersatu
sederhana untuk identitas kompleks dan multifaset. Empiris pekerjaan telah
menunjukkan bahwa kompleksitas identitas sosial yang positif berkaitan dengan
toleransi terhadap outgroup anggota (Roccas & Brewer, 2002) dan sikap
positif terhadap kelompok-kelompok di luar ras (Brewer & Pierce, 2005;
Miller, Brewer, & Arbuckle, 2009). Lain aliran penelitian tentang identitas
sosial beberapa berfokus pada intersectionality, yang mengacu pada "cara
di mana berbagai aspek identitas dapat menggabungkan dengan cara yang berbeda
untuk membangun realitas sosial "(Sanchez-Hucles & Davis, 2010).
Sebagian
besar penelitian telah difokuskan pada keragaman tunggal
kategori keanekaragaman (misalnya, ras, usia, jenis kelamin), tetapi penelitian
tentang intersectionality telah memulai proses pemeriksaan bagaimana beberapa
kategori secara bersamaan mempengaruhi pengalaman individu (misalnya, perempuan
Hitam). Akhirnya, penelitian tentang keanekaragaman faultlines (yang menganggap
bagaimana banyak identitas anggota kelompok menyelaraskan untuk membuat sub-sub
kelompok) juga menunjukkan bahwa kekuatan luar kelompok efek mungkin berbeda
tergantung pada komposisi kelompok (Lau & Murnighan, 1998, 2005; Rico,
Molleman, Sanchez-Manzanares, & Van der Vegt, 2007). Namun, perlu diketahui
bahwa penelitian faultline biasanya dilakukan di tingkat kelompok, meninggalkan
ruang untuk lebih bernuansa model yang mencerminkan kemajuan dalam penelitian
psikologis pada identifikasi sosial dan yang mempertimbangkan pengalaman
individu dalam kelompok
Self-verifikasi teori lain teori psikologi sosial
yang menjanjikan untuk bangunan atas nilai saat ini tema keunikan dalam
kerangka inklusi kita. Ini teori telah dimasukkan dalam literatur empiris
keragaman hanya pada tingkat kelompok (Polzer, Milton, & Swann, 2002).
Self-verifikasi teori, yang menyatakan bahwa orang bergabung dengan kelompok
sebagian untuk memverifikasi pribadi dan sosial mereka sendiri pandangan, telah
diteliti secara empiris di individu tingkat dalam literatur psikologi sosial.
Gomez, Huici, Seyle, dan Swann (2009) menemukan bahwa individu berusaha untuk
memverifikasi identitas mereka baik negatif dan positif, sedangkan Gomez,
Huici, dan Morales (2004;. Dikutip dalam Gomez dkk, 2009) menunjukkan bahwa
hubungan antar kelompok dapat ditingkatkan ketika keluar-anggota kelompok
(individu yang tidak berbagi kelompok yang sama keanggotaan) memverifikasi
identitas individu. Studi ini menunjukkan bahwa self-verifikasi,
bahkan dalam menghadapi diri negatif-pandangan, lebih disukai, menunjukkan
bahwa peningkatan diri tidak mungkin sebagai memotivasi seperti yang sering
diasumsikan. Selanjutnya, studi ini menunjukkan bahwa diri verifikasi proses,
termasuk perasaan diverifikasi oleh orang lain yang berbeda dari diri sendiri
(yaitu, out-kelompok anggota),
penting untuk mewujudkan perbaikan dalam interaksi antara individu-individu
yang beragam.
Secara umum, keanekaragaman individu dalam kelompok
kerja telah bergantung pada lama teori perspektif, seperti teori identitas
sosial dan self-kategorisasi. Terakhir teoritis
perkembangan dalam keragaman dan sastra kerja kelompok telah menekankan manfaat
keunikan di tingkat grup (misalnya, faultlines dan perspektif
integrasi-dan-learning), yang mungkin atau mungkin tidak relevan dengan
pengalaman kerja yang beragam individu dalam
kelompok. Dengan melihat perkembangan baru dalam penelitian psikologi sosial terhadap
kekhasan yang optimal, identitas kompleksitas sosial, intersectionality, dan
self-verifikasi teori, misalnya, ada ide-ide berharga yang dapat dibangun di
atas untuk memajukan sastra keanekaragaman pada individu
Wawasan untuk Kinerja Masa Depan
Meskipun literatur penelitian keanekaragaman sangat
luas, banyak penelitian masih diperlukan untuk memahami bagaimana organisasi
dapat menciptakan lingkungan inklusif yang memberikan kesempatan bagi berbagai
orang yang bekerja sama dalam perekonomian global kami. Sebagaimana dinyatakan
oleh Bell (2007: 3), "Setelah lebih dari dua dekade penelitian keragaman,
empat dekade undang-undang anti diskriminasi, dan luar biasa perhatian media
terhadap keanekaragaman, diskriminasi dan pengucilan di organisasi bertahan
"Jadi., dalam artikel ini kita berdebat untuk pentingnya mengembangkan
membangun inklusi dengan tujuan penelitian inspirasi yang meningkatkan teori
dan
praktek. Pada bagian berikutnya, kami menyajikan model-tahap awal dari anteseden
dan konsekuensi inklusi yang dimaksudkan untuk memandu penelitian masa depan dan
pemikiran di bidang keragaman dan inklusi, bukan untuk menawarkan model
sepenuhnya dikembangkan dengan diskusi luas yang komponen.
Faktor-faktor kontekstual adalah bagian dari
lingkungan yang memberikan rangsangan kepada individu dan digunakan untuk
menginterpretasikan informasi di tempat kerja (Mowday & Sutton, 1993;
Weick, 1979). Anteseden, seperti iklim, kepemimpinan, dan praktik sumber daya
manusia, memberikan kontribusi pada kelompok proses yang membangun lingkungan
kerja untuk persepsi individu inklusi (Bilimoria et al., 2008).
Inklusif iklim. Sebuah organisasi bergerak identitas ras dari yang monokultural,
di mana perbedaan ras adalah diminimalkan dan / atau diabaikan, salah satu yang
menghargai perbedaan dan penawaran secara terbuka dengan konflik rasial dan
keragaman isu. Identitas ini bervariasi organisasi menciptakan lingkungan yang
berbeda yang dapat meningkatkan atau menghambat retensi minoritas karyawan.
Akhirnya, Nishii (2010) memberikan bukti bahwa iklim inklusi melibatkan praktek
kerja yang adil, integrasi interpersonal beragam karyawan, dan keterlibatan
dalam pengambilan keputusan. Penelitian di masa depan dapat menguji spesifik komponen
iklim, seperti mereka yang terlibat dalam keadilan-peristiwa terkait, dalam
kesempatan dan integrasi
interpersonal, atau dalam identitas rasial organisasi, yang berkaitan secara
khusus untuk karyawan persepsi inklusi.
Sebuah iklim inklusi adalah satu di mana kebijakan,
prosedur, dan tindakan organisasi
agen konsisten dengan perlakuan yang adil terhadap semua kelompok sosial,
dengan perhatian khusus pada kelompok yang memiliki lebih sedikit kesempatan
historis dan yang stigma di masyarakat di mana mereka tinggal. Kelompok yang
terakhir sangat mungkin untuk memperhatikan tingkat inklusi yang muncul untuk
hadir dalam organisasi. Namun, sistem keadilan yang lebih luas juga cenderung
dicatat oleh mereka secara tradisional mayoritas (misalnya, pria dan Kaukasia),
yang mungkin kekhawatiran yang berkaitan dengan "membalikkan
diskriminasi" (Heilman, Blok, & Lucas, 1992; Morrison, 1992).
Kekhawatiran tersebut dapat menciptakan konflik antara anggota kelompok dan
merusak
pemenuhan kebutuhan rasa memiliki dan keunikan. Davidson dan Proudford
(2008) menyarankan bahwa ada pola resistensi terhadap keragaman dengan
mayoritas dan minoritas anggota dan bahwa pola makan satu sama lain untuk
menghambat upaya inklusivitas. Friedman dan Davidson (2001) membuat perbedaan
antara orde pertama konflik keanekaragaman (misalnya, diskriminasi dan bias)
dan orde kedua keragaman konflik (perselisihan atau disebabkan oleh obat yang
dirancang untuk menghapus diskriminasi seperti reaksi keras dan kebencian yang
disebabkan oleh, misalnya, tindakan afirmatif atau pelatihan keragaman). Mereka
juga mencatat bahwa orde pertama konflik hanya dirasakan oleh kaum minoritas,
sedangkan orde kedua konflik akan dirasakan oleh kedua minoritas dan
mayoritas anggota. Dalam iklim inklusi, baik minoritas dan mayoritas anggota
merasa bahwa
mereka berada dan merasa dihormati sehingga perlawanan dan konflik dapat
diminimalkan.
Hal ini penting bahwa penelitian di masa depan
inklusi memperhitungkan pengalaman baik mayoritas dan minoritas anggota untuk
menangkap efek dari iklim inklusif pada seluruh karyawan. Kepemimpinan
inklusif. Pendekatan tradisional untuk mengatasi tujuan keragaman dan inklusi telah
merekrut dan mempekerjakan karyawan yang beragam (Jackson, 1992;. Shore et al,
2009). Namun, sampai saat ini, sangat sedikit penelitian yang meneliti proses
organisasi internal yang membuat inklusi bukan representasi numerik hanya
keanekaragaman. Para peneliti memiliki mulai membangun pentingnya filosofi
manajemen puncak dan nilai-nilai yang berkaitan dengan keragaman dan kesempatan
kerja yang sama. Nilai-nilai tersebut secara langsung dapat mempengaruhi jenis
praktek-praktek yang berlaku
dalam kelompok kerja yang mempromosikan atau melemahkan inklusi (Reskin, 2000).
Hasil Hasil Dari Inklusi
Sebagaimana ditunjukkan dalam review kami dari
literatur inklusi, ada tubuh agak kecil yang ada pada hasil pekerjaan yang
dihasilkan dari inklusi. Dengan pengecualian bukti empiris menunjukkan inklusi
yang positif berhubungan dengan kepuasan kerja (Acquavita et al., 2009) dan bahwa
pengecualian dari pengambilan keputusan adalah prediktor niat untuk meninggalkan.
Namun,menduga bahwa ini disebabkan oleh pembangunan yang kurang lengkap dari
konsep inklusi dari apa telah disajikan dalam review saat ini. Pada bagian ini,
kami menyoroti beberapa dari banyak potensi hasil dari inklusi yang tampaknya
menjanjikan dalam penelitian masa depan. Hasil-hasil ini disarankan untuk
tujuan merangsang penelitian masa depan. Individu memiliki karakteristik status
yang berhubungan dengan kategori sosial mereka timbul dari budaya yang lebih
luas (misalnya, usia, gender, etnis, orientasi seksual; Turner, Stets, Masak,
& Massey, 2006). Bila ada Status perbedaan dalam suatu kelompok, kelompok
berstatus tinggi anggota telah ditemukan untuk menggunakan pengaruh yang cukup
besar atas rendahnya status anggota kelompok. Kecuali informasi tambahan diperkenalkan
yang bertentangan dengan harapan status, berstatus rendah anggota kelompok
sering menahan pendapat, sesuai dengan pendapat berstatus tinggi anggota
kelompok dan menahan diri dari perilaku direktif seperti nilai dari keanggotaan
mereka dalam kelompok
tidak pernah menyadari sepenuhnya (misalnya, Asch, 1955; Earley, 1999; Freese
& Cohen, 1973; Johnson, Funk,& Tanah Liat-Warner, 1998). Inklusi dapat
melibatkan penghapusan perbedaan status yang dirasakan sehingga anggota
kelompok merasa bebas untuk menjadi diri mereka sendiri dan untuk mengekspresikan
pendapat mereka.
Selain itu, membangun
teori Status karakteristik (yang menyatakan bahwa status tinggi anggota
kelompok dianggap lebih kompeten dari rendah-status anggota kelompok), inklusi
mungkin tingkat lapangan berkenaan dengan persepsi kompetensi antara anggota
kelompok (Berger, Cohen, & Zelditch, 1972). Beberapa dukungan untuk
kemungkinan bahwa inklusi meminimalkan statusnya perbedaan yang ditawarkan oleh
Nembhard dan itu Edmonson (2006) temuan bahwa pemimpin inklusivitas adalah
positif berhubungan dengan keamanan psikologis dalam tim perawatan kesehatan
professional dengan status bervariasi, yang pada gilirannya berhubungan positif
dengan keterlibatan anggota kelompok.
Ada beberapa bukti yang menunjukkan inklusi yang
berhubungan dengan kepuasan kerja dan keinginan berpindah. Dalam hal kepuasan
kerja, sebuah studi oleh Acquavita dkk. (2009) menunjukkan bahwa persepsi
tentang inklusi dan eksklusi adalah signifikan dalam memprediksi social pekerja
kepuasan kerja. Hasil ini didukung oleh penelitian sebelumnya pada inklusi dan
kepuasan kerja oleh Mor Barak dan Levin (2002) dan Mor Barak dkk. (2006). Dalam
hal omset niat, sebuah penelitian oleh Avery dkk. (2008) menemukan bahwa
inklusivitas yang dirasakan berhubungan positif untuk maksud untuk tetap.
Selanjutnya, mereka menyarankan bahwa karyawan yang merasa lebih social terintegrasi
cenderung menunjukkan tingkat yang lebih tinggi dari identifikasi organisasi
dan lampiran dan kecil kemungkinannya untuk pergi. Menggunakan jalur yang lebih
tidak langsung, Mor Barak et al 's. (2006) studi anak pekerja kesejahteraan
menyarankan agar inklusif terkait dengan kepuasan kerja, yang, pada berubah,
itu terkait dengan keinginan berpindah. Singkatnya, tampaknya bahwa meskipun
tidak ada yang substansial jumlah literatur pada dua hasil, ada beberapa bukti
yang menunjukkan bahwa kedua pekerjaan kepuasan dan keinginan berpindah adalah
hasil yang layak inklusi dirasakan.
Model interpersonal keadilan, seperti teori
pertukaran sosial (Blau, 1964), memberikan dasar untuk membuat prediksi tentang
efek inklusi. Keadilan berhubungan dengan kualitas tinggi pertukaran sosial
hubungan (Masterson, Lewis, Goldman, & Taylor, 2000; Moorman,
Blakely, & Niehoff, 1998; Wayne, Shore, Bommer, & Tetrick, 2002) yang
melibatkan saling investasi oleh kedua belah pihak dan kepedulian untuk
kepentingan pihak lain dalam hubungan (Shore, Tetrick, Lynch, & Barksdale,
2006). Jenis hubungan menciptakan suatu kewajiban untuk membalas perlakuan yang
menguntungkan dan menghindari tindakan berbahaya konsisten dengan norma timbal
balik (Gouldner, 1960) dan berkaitan dengan prestasi kerja ditingkatkan dan lebih
tinggi tingkat perilaku kewarganegaraan organisasi (bdk. Wayne, Shore, &
Liden, 1997).
Demikian juga, kepercayaan adalah mekanisme yang
penting dari sosial pertukaran (Konovsky & Pugh, 1994;. Shore et al, 2006),
memfasilitasi pengorbanan diri dan komitmen dalam kaitannya dengan bekerja
kelompok dan organisasi. Selain itu, penelitian terbaru oleh Cho dan Mor Barak
(2008) menunjukkan bahwa persepsi inklusi diprediksi baik komitmen organisasi
dan pekerjaan kinerja. Penelitian lain juga mendukung hubungan antara persepsi
karyawan penerimaan mereka oleh organisasi dan tingkat komitmen (Lawler, 1994;
Mor Barak, Findler, & Angin, 2001) dan antara persepsi mereka dan rasa
memiliki organisasi
kewarganegaraan perilaku (Den Hartog, De Hoogh, & Keegan, 2007). Singkatnya,
perlakuan yang adiln kelompok dan individu yang terkait dengan inklusi harus
memfasilitasi pengembangan perasaan kewajiban dan kepercayaan, yang mendorong
balasan pengobatan inklusif untuk kelompok kerja dan pengawas dalam bentuk
perilaku warga organisasi, organisasi komitmen, dan prestasi kerja.
she who likes to be fun ... hate to lie! love making people smile and good heart is not proud..Ha Ha Ha
*no man those perfect and that perfection belongs only to Allah SWT*